Hotel Berbintang dan Penginapan di Jatim Ditaksir Capai 2.500 Unit

Jawa Timur (Jatim), khususnya Surabaya, bagaikan tanah subur untuk bisnis perhotelan. Tiap tahun hotel-hotel baru bermunculan. Tahun lalu ada empat hotel anyar di Kota Pahlawan. Rata-rata merupakan hotel bintang tiga.

JawaPos.com – Jawa Timur (Jatim), khususnya Surabaya, bagaikan tanah subur untuk bisnis perhotelan. Tiap tahun hotel-hotel baru bermunculan. Tahun lalu ada empat hotel anyar di Kota Pahlawan. Rata-rata merupakan hotel bintang tiga. Berdasar data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pada 2017 total ada 1.881 penginapan di Jatim. Itu terdiri atas hotel berbintang serta tidak berbintang plus homestay dan losmen. Tahun berikutnya jumlah itu tumbuh menjadi 2.180.

“Data 2019 memang belum keluar. Tapi, kami rasa growth-nya bisa mencapai 20 persen didukung virtual hotel operator (VHO) yang sekarang kian masif. Misalnya, OYO, RedDoorz, Airy,” tutur Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono Kamis (20/2). Dia menambahkan bahwa rata-rata pertumbuhan hotel baru di Jatim 13 persen tiap tahun. Komposisinya, hotel bintang satu sampai lima mencapai 30 persen. Sisanya sebanyak 70 persen adalah hotel nonbintang seperti homestay dan losmen.

Menurut Dwi, yang gencar di Jatim adalah pembangunan hotel bintang empat dan lima. Terutama di area wisata. Sebab, di beberapa daerah muncul moratorium pendirian hotel bujet serta hotel bintang satu dan dua. Misalnya, Batu dan Banyuwangi. “Wilayah tersebut hanya mengizinkan pembangunan hotel bintang empat sampai lima. Sebab, jumlah hotel jenis itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang nonbintang,” jelasnya.

Tahun ini bakal ada penambahan lebih dari 3.000 kamar khusus hotel bintang empat dan lima di Jatim. Dwi menuturkan, hotel yang high class sangat dibutuhkan di daerah untuk menampung tamu-tamu VIP dan mengadakan kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) yang eksklusif. “Di Surabaya, hotel kelas atas sudah tercukupi. Beda dengan di daerah yang hanya ada satu atau dua hotel bintang empat dan lima,” ungkapnya.

Di sisi lain, dia juga mengungkapkan, dengan semakin ketatnya perkembangan hotel berbintang di Surabaya, kini setiap hotel mengandalkan ballroom untuk mengerek pendapatan. Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan, pasar hotel berbintang di Surabaya sangat terbuka lebar. Sebab, tidak sedikit pebisnis yang memilih ibu kota Jatim itu sebagai lokasi MICE.

Di pasar Jakarta, tren bisnis hotel berbintang cenderung melandai tahun ini. Data Hotel Investment Strategies LLC menyebutkan bahwa tingkat hunian hotel-hotel berbintang di Jakarta sepanjang 2019 rata-rata 60,5 persen. Angka itu lebih rendah 6,3 persen ketimbang pencapaian tahun sebelumnya. Penyumbang okupansi terbesar adalah hotel bintang dua. Tingginya permintaan hotel di bawah bintang tiga salah satunya ditengarai semakin merebaknya suplai kamar oleh VHO.

 

SUPLAI KAMAR HOTEL SURABAYA:

Bintang | 2019 | 2020 (estimasi)

Bintang 3 | 5.974 | 6.142

Bintang 4 | 5.268 | 5.782

Bintang 5 | 2.660 | 3.064


TAMBAHAN PASOKAN KAMAR HOTEL JAKARTA:

Bintang | 2019 | 2020 (estimasi)

Bintang 3 | 744 | 595

Bintang 4 | 1.139 | 797

Bintang 5 | 723 | 711

Sumber: Colliers International Indonesia-Research Services